Selasa, 08 Januari 2008

Belajar dari Kisah Tukang Jam


Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya, “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.536.000 kali selama setahun?”
“Ha…?” kata jam terperanjat. “Mana sanggup saya.”
“Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari ?”
“Sebanyak itu ? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini ?”jawab jam penuh keraguan.
“Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam ?”
“Dalam satu jam ? Banyak sekali itu ?” tetap saja jam membalas dengan ragu-ragu atas kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian berbicara kepada si jam, “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik ?”
“Nah, kalau itu aku pasti sanggup.” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali tiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa. Karena, ternyata selama satu tahun penuh ia telah berdetak tanpa henti. Itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.536.000 kali (coba saja Anda hitung sendiri !).
Ada kalanya, kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya, kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata “tidak” sebelum anda pernah mencobanya.
Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Ada pula dengan denyut jaunting, gairah dan air mata. Tetapi, ukuran sejati di bawah mentari adalah, apa yang telah Anda lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.


Cinta adalah Pengertian



Ada seorang pemuda, namanya Budi, yang melihat seekor kalajengking akan tenggelam dalam suatu pusaran air. Muncul keinginan spontan untuk menyelamatkan si kalajengking ini. Sehingga, tanpa ragu-ragu Budi mengulurkan tangannya dan mengangkat kalajengking itu dari air dan hendak meletakkannya di tanah yang kering.
Namun, si kalajengking malah menyengatnya. Sesudah itu, kalajengking itu melanjutkan perjalanannya untuk menyeberang jalan dengan cara berjalan langsung menuju pusaran air itu lagi ! Melihat kalajengking itu gelagapan karena akan tenggelam lagi, Budi pun mengangkatnya untuk kedua kalinya. Sekali lagi, kalajengking itu menyengatnya !
Orang lain yang melihat peristiwa itu berkata pada Budi, “Mengapa kau bodoh sekali ? Kau lihat, bukan cuma sekali kau disengat. Dua kali ! Tolol sekali kau mau mencoba menyelamatkan kalajengking itu.”
Budi pun menjawab, “Pak, tidak bisa saya tidak melakukannya. Sudah menjadi sifat alami kalajengking itu untuk menyengat. Tetapi, juga sudah merupakan sifat alami saya untuk menyelamatkan. Maka yang harus saya lakukan adalah mencoba menyelamatkan kalajengking itu.”

Memang, sebenarnya Budi bisa mengembangkan kebijaksanaan. Dia bisa menggunakan tongkat atau kayu untuk mengangkat kalajengking itu. Tetapi, mungkin juga Budi berpikir bahwa dia bisa mengangkat kalajengking itu sedemikian rupa sehingga tidak akan disengat. Atau mungkin, dia berpikir bahwa kalajengking itu dalam keadaan sekarat sehingga tidak akan menyengat.
Apa pun kemungkinannya, inti cerita di atas itu adalah respon spontan dari seorang manusia yang ingin menyelamatkan makhluk hidup lainnya, sekali pun mungkin hanya seekor serangga. Itu juga menunjukkan bahwa orang yang penuh kasih sayang memang demikian, sehingga sekali pun dia mungkin tidak menerima ucapan terima kasih dari makhluk yang ditolongnya, tidak menjadi masalah. Menolong itu sudah menjadi sifat alaminya, dan jika dia bisa menolong lagi, dia tetap akan melakukannya. Dia tidak tahu bagaimana caranya menyimpan kepahitan atau dendam.
Memang, kasih sayang adalah bahasa hati. Pada saat kita didorong oleh cinta kasih dan kasih sayang, kita mengulurkan tangan untuk menolong tanpa membeda-bedakan suku bangsa, kepercayaan atau ras orang lain. Dengan sinar kasih sayang, identifikasi yang menyangkut suku, kepercayaan, dll. menjadi sekunder, semua itu tidak lagi bermakna. Lebih jauh lagi, kasih sayang tidak hanya terkungkung bagi manusia, karena kasih sayang juga berlaku bagi binatang, serangga dan semua makhluk hidup. Itulah makna cinta kasih dan kasih sayang.
Akhir kata, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.