Jumat, 28 Maret 2008

Delapan Kebohongan Ibuku


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abangku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari

Colombus dan Telur


Ini sebuah cerita kecil di balik kesuksesan Colombus yang menemukan benua Amerika. Setelah penemuan yang fenomenal itu, Colombus menjadi sangat terkenal dan diagung-agungkan oleh Raja dan seluruh rakyat. Colombus pun diangkat menjadi bangsawan kehormatan kerajaan.

Kepopuleran Colombus itu membuat beberapa orang menjadi iri kepadanya. Suatu hari, Colombus mengadakan perjamuan makan. Dalam perjamuan makan itu dia menceritakan semua kisah yang dihadapi dalam pencarian benua baru tersebut. Semua tamu undangan terpukau dan mengakui kehebatan sang Penemu Benua Baru tersebut. Namun beberapa orang yang iri dengan sinis berkata, “Apa hebatnya dia ? Dia Cuma berlayar dan kebetulan saja menemukan benua baru. Siapa saja bias melakukan itu.”

Mendengar hal tersebut, Colombus kemudian menantang para orang yang iri tersebut. “Marilah kita bertanding untuk membuktikan siapakah yang lebih baik. Barangsiapa yang berhasil membuat telur-telur rebus ini berdiri di atas meja makan, maka ialah orang yang terbaik dan semua gelar-kekayaanku akan kuserahkan padanya.”

Orang-orang yang iri tersebut menerima tantangan Colombus. Kemudian mereka mulai berusaha untuk membuat telur-telur rebus itu berdiri di atas meja makan. Namun, karena telur itu benda yang elips, maka cukup mustahil untuk bisa berdiri di atas meja. Tiap kali dicoba untuk diberdirikan, telur-telur itu langsung saja menggelinding jatuh. Akhirnya, mereka pun menyerah.

Kini, tiba giliran Colombus. Ia memegang telur rebus itu di atas meja dengan posisi berdiri sambil dipegangi, kemudian dengan tangan yang satunya Colombus menekan ujung atas telur rebus itu ke meja sehingga ujung bawah telur menjadi remuk dan memipih. Karena tidak lonjong lagi, telur tersebut bisa berdiri tegak di atas meja. Melihat hal tersebut, orang-orang yang iri kepadanya dengan sini berkata, ”Ah…kalau caranya seperti itu, kami juga bisa membuat telur rebus itu berdiri.”

Dengan bijak dan sambil tersenyum, Colombus berkata, “Kalau begitu, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi ?”

Cerita di atas hendak memberitahukan kita bahwa kesuksesan dan keberhasilan berasal dari suatu tindakan nyata atas gagasan kita. Colombus dari beberapa orang pada masa itu mempunyai gagasan tentang bumi yang bulat. Teori tersebut jelas-jelas bertentangan dengan kepercayaan pada waktu itu bahwa bumi itu datar seperti piring. Ketika Colombus mengutarakan niatnya untuk melakukan ekspedisi laut, banyak orang termasuk keluarganya menganggap dirinya gila. Namun, Colombus tetap teguh pada pendiriannya. Ancaman hukuman mati atas pengingkaran hukum Tuhan, ia hadapi dengan tegar sehingga pada akhirnya, sejarah mencatatnya sebagai penemu benua dan pelaut handal.

Seringkali, ketakutan atas kegagalan, penilaian miring orang lain, penderitaan dan sebagainya, membuat kita terhalang untuk menemukan kesuksesan. Kadang kita juga merasa iri atas keberhasilan orang lain. Kita sering berkata, ”Ah, dia sih cuma beruntung saja. Aku pun bisa melakukannya.”

Jadi, apa yang Anda pilih ? Gagal karena terlalu takut untuk gagal atau berhasil karena tidak takut gagal ? Hanya Anda yang bisa memilih.